INFOCIRANJANG.COM, CIANJUR – Terputusnya Jembatan Merah di Kampung Pagermaneuh, Kecamatan Tanggeung, bukan sekadar persoalan infrastruktur yang rusak — tapi kini menjadi ujian berat bagi ratusan warga dari tiga desa yang terisolasi sejak Selasa (11/11/2025) sore.
Curah hujan tinggi yang memicu luapan Sungai Cibuni menghanyutkan jembatan penghubung antara Desa Pagermaneuh, Desa Karang Tengah, dan Desa Rawagede, membuat aktivitas warga lumpuh total. Bagi sebagian besar masyarakat, jembatan itu adalah satu-satunya jalur vital menuju sekolah, pasar, dan lahan pertanian.
“Biasanya anak-anak ke sekolah cuma 10 menit naik motor, sekarang harus mutar hampir satu jam lewat jalan berbatu,” keluh Dodi Agusti Romdon, Kepala Desa Pagermaneuh, Rabu (12/11/2025).
Dampak paling nyata dirasakan oleh pelajar dan petani. Aktivitas belajar di beberapa sekolah, termasuk SMP dan SMK di wilayah sekitar, terpaksa diliburkan sementara karena akses jalan tidak memungkinkan. Sementara itu, para petani hanya bisa pasrah melihat 50 hektare sawah yang baru ditanami padi terendam banjir.
Meski demikian, semangat gotong royong warga tidak surut. Sejak malam kejadian, warga bersama aparat desa mulai membuat jalur darurat sederhana dengan menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu untuk mengangkut kebutuhan pokok dan membantu warga lanjut usia.
“Kami berusaha semampunya, yang penting bisa tetap saling bantu. Tapi kami sangat berharap pemerintah segera membangun jembatan baru,” tambah Dodi.
Pihak kecamatan dan pemerintah daerah telah meninjau lokasi dan menetapkan status tanggap darurat sementara, dengan rencana pembangunan jembatan darurat agar aktivitas warga dapat kembali berjalan normal.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap infrastruktur yang rusak, ada kehidupan masyarakat yang ikut terhenti — dan di tengah keterbatasan, warga tetap berjuang mempertahankan harapan. (Sam)



















