INFOCIRANJANG.COM, CIANJUR — Ribuan warga dari berbagai wilayah memadati jalur pawai Cianjur Fest 2026 yang menjadi salah satu rangkaian puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Cianjur ke-349. Mengusung tema “Rahayat Raksa Raharja”, helaran budaya tersebut berlangsung meriah sekaligus menampilkan kembali tradisi Kuda Kosong sebagai warisan sejarah Cianjur.
Pawai dimulai dari Jalan Perintis Kemerdekaan, kemudian melintasi Jalan Prof. Moch Yamin, Jalan KH Hasyim Ashari, dan Jalan Mangunsarkoro sebelum berakhir di kawasan Alun-alun Cianjur dan halaman Masjid Agung Cianjur.
Kepala Dinas Pariwisata Cianjur, Yudha Azwar, mengatakan karnaval tahun ini diikuti 86 peserta unggulan. Peserta tersebut terdiri atas 36 kendaraan hias, 32 kelompok kesenian dari perwakilan kecamatan, serta 18 komunitas budaya dan organisasi perangkat daerah.
Iring-iringan Kuda Kosong dan Kereta Kencana jajaran Forkopimda menjadi salah satu magnet utama yang menarik perhatian masyarakat sepanjang rute pawai.
Kuda Kosong Bukan Sekadar Hiburan
Pemangku adat tradisi Kuda Kosong, Ustaz Dadang Ahmad Fajar, menegaskan bahwa Kuda Kosong bukan sekadar tontonan dalam setiap helaran budaya Cianjur. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai sejarah dan pesan edukasi yang penting untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Jenis kuda kosong masih seperti tahun kemarin. Pesan moralnya tidak ada yang lain kecuali ini adalah fakta historis, memberikan edukasi kepada masyarakat dengan bentuk helaran,” ujarnya.
Dadang menjelaskan, tradisi Kuda Kosong berkaitan dengan sejarah diplomasi antara Cianjur dan Mataram. Tradisi tersebut menjadi simbol keberhasilan hubungan kedua wilayah yang dibangun tanpa peperangan maupun pertumpahan darah.
“Harapan saya setiap Bupati tidak lagi ada yang menjegal kuda kosong. Ini fakta historis Cianjur menunjukkan bahwa kita bersahabat dengan Mataram tanpa pertempuran, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, cukup diplomasi,” katanya.
Ia menyebut hubungan antara Cianjur dan Mataram pada masa itu dikenal dengan istilah sawawa, yang menggambarkan kesepadanan hubungan. Dalam kondisi Cianjur yang masih dalam tahap membangun, bentuk upeti yang diberikan disebut hanya berupa tiga butir lada, tiga butir padi, dan tiga butir biji cabai.
Makna Kuda yang Diarak Tanpa Penunggang
Secara pedagogis, kuda yang menjadi hadiah Raja Mataram untuk kakaknya di Cianjur tidak ditunggangi oleh adiknya ketika berangkat ke Mataram. Karena itu, kuda tersebut kemudian diarak dalam keadaan kosong.
Tradisi tersebut juga memiliki makna sosial dan kepemimpinan. Kuda kosong menjadi bentuk otokritik mengenai kesiapan seorang pemimpin dalam mengurus masyarakat yang berada di belakangnya.
Sementara itu, keberadaan kukus yang menyertai helaran tidak dimaksudkan sebagai simbol mistis. Menurut Dadang, kukus memiliki pesan moral mengenai pentingnya seorang pemimpin memberikan manfaat sebelum mendapatkan kepercayaan untuk memimpin.
“Lamun rek jadi Bupati di Cianjur kudu nyebarken hela kawani, harus berjasa dulu,” jelasnya.
Cianjur Fest Dorong Ekonomi UMKM
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, mengatakan Cianjur Fest 2026 tetap digelar meskipun pemerintah daerah tengah melakukan efisiensi anggaran.
Menurutnya, pesta rakyat tersebut tidak hanya bertujuan menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya sekaligus menggerakkan perekonomian lokal.
“Ini upaya pelestarian warisan leluhur sekaligus pendorong roda ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil yang kebanjiran pengunjung,” kata Wahyu.
Sepanjang pelaksanaan pawai, warga dari berbagai kelompok usia tampak memenuhi tepi jalan. Mereka menyambut rombongan peserta dengan tepuk tangan dan sorak sorai, menciptakan suasana meriah sekaligus memperlihatkan antusiasme masyarakat terhadap gelaran budaya daerah.
Rangkaian Cianjur Fest 2026 kemudian dilanjutkan dengan acara Gema Syiar pada malam hari di halaman Masjid Agung Cianjur.
Di tengah kemeriahan pesta rakyat tersebut, tradisi Kuda Kosong kembali mengingatkan bahwa kebudayaan bukan hanya tentang pertunjukan. Di balik arak-arakan dan sorak warga, tersimpan catatan sejarah tentang diplomasi, kepemimpinan, serta identitas Cianjur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (sam)


















